Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Jumat, 18 November 2011

Ikan Nemo


google.com Ikan badut atau Nemo (clown fish) sekarang ini sudah bisa dibudidayakan. Penangkapan di laut untuk ekspor ikan hias bisa dikurangi.
KOMPAS.com — Ikan badut (clown fish) atau biasa disebut ikan "Nemo", sesuai karakter di film kartunnya, adalah salah satu jenis ikan hias yang digemari saat ini. Sayangnya, sebagian besar ikan itu berasal dari penangkapan di laut sehingga berpotensi punah jika diambil berlebihan sesuai permintaan pasar.
Akan tetapi, Anda tak perlu khawatir dan merasa bersalah jika ingin memeliharanya. Ikan berwarna dasar oranye itu kini sudah berhasil ditangkarkan. Jadi, untuk mendapatkannya, Anda tidak harus selamanya memiliki ikan Nemo hasil penangkapan di alam. Budi daya merupakan salah satu jalan keluar mengantisipasi hal tersebut.
Belum banyak orang atau lembaga yang bisa menangkarkannya. Salah satu lembaga yang bisa adalah Balai Besar Riset Perikanan dan Budidaya Laut (BBRPBL) Kementerian Kelautan dan Perikanan di Gondol, Buleleng, Bali. "Ada dua jenis clown fish yang berhasil dikembangkan bibitnya di sini. Salah satunya dengan garis hitam yang di pasar lebih mahal harganya. Satunya lagi yang tanpa garis hitam," kata Dr Nyoman Adiasmara Giri, Kepala Balai, di tempat pembenihan tersebut.
Nemo yang bergaris hitam punya nama ilmiah Amphyprion percula. Adapun yang tidak bergaris hitam punya nama ilmiah Amphyprion ocellaris.
Ia mengatakan, dalamupaya pembenihan tersebut, pihaknya juga menggandeng pihak swasta CV Dinar di Gilimanuk yang bergerak dalam usaha pembesaran dan pengeksporan ikan badut. Perusahaan tersebut awalnya sebagai penyedia indukan untuk penelitian. Namun, mereka kini juga dapat melakukan pembenihan sendiri.
"Dalam setahun, satu pasang indukan Nemo dapat menghasilkan bibit sekitar 50.000 ekor. Tingkat keberhasilan pembenihannya bisa dikatakan ekonomis," kata Dr Gede Suwarthama Sumiarsa, peneliti perikanan di balai tersebut.
Ia mengatakan, saat ini pihaknya terus melakukan riset untuk meningkatkan kualitas benih dan efektivitas produksi pakannya. Hasil penelitian ini akan disebarkan kepada masyarakat. Balai penelitian tersebut juga mengembangkan model usaha perikanan yang cocok untuk usaha kecil atau untuk skala industri.
Ikan Nemo biasanya dieskpor sebagai ikan hias ke Singapura, AS, dan Hongkong. Nah, kalau sudah ada ikan Nemo hasil budi daya, maka untuk memilikinya kita tak perlu tergantung pada hasil tangkapan di laut, bukan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar